Kamis, 14 Mei 2009

Duh,,siswa terpaksa menumpang UASBN

BANDUNG, KOMPAS.com — Sejumlah sekolah dasar di Bandung tidak dapat menyelenggarakan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) secara mandiri. Siswa di sekolah ini terpaksa menumpang tes UASBN, termasuk ujian sekolah yang dilaksanakan mulai Kamis (14/5) di sekolah tetangga.

Sekolah ini di antaranya SD Trikarsa dan SD Jembar, Kota Bandung. Ke-38 siswa dari kedua sekolah swasta ini menumpang ujian di SDN Kacapiring I Kota Bandung. SD Trikarsa adalah salah satu sekolah yang sangat minim sarana prasarana. Atap sekolah ini jebol beberapa minggu lalu.

Menurut Kepala SD Kacapiring I, Neneng Kordiati, kedua sekolah ini tidak bisa menyelenggarakan UASBN secara mandiri karena belum terakreditasi. Bahkan untuk ujian sekolah yang lingkupnya lokal, tempat pelaksanaan dan penyusunan soal juga masih menumpang di sekolah negeri ini.

Soal UAS pun yang buat dari kami (SDN Kacapiring I). Begitu pun surat tanda tamat belajar (STTB), kami juga yang mengeluarkan, ucapnya. Persoalan sarana prasarana adalah salah satu pertimbangan kedua sekolah ini belum dibolehkan menyelenggarakan ujian sendiri.

Meskipun berstatus ibu kota provinsi, tidak sedikit sekolah di Kota Bandung yang mengalami hal ini. Menurut Kepala Bidang TK-SD Dinas Pendidikan Kota Bandung Ende Muttaqin, setidaknya ada 10 sekolah yang belum diperbolehkan menyelenggarakan ujian secara mandiri.

Menurut standar operasional, hanya sekolah terakreditasi yang boleh menyelenggarakan UASBN, ucapnya. Namun, ia mengatakan, sekolah ini seluruhnya adalah swasta. Khusus negeri, seluruhnya kini sudah menjadi penyelenggara mandiri ujian akhir.

Kepala Kepala Seksi Pembinaan TK dan SD Bidang Pendidikan Dasar Disdik Provinsi Jawa Barat Uuh Suparman mengatakan, jika ketentuan tentang penyelenggara ujian ini diterapkan rigid, maka akan banyak sekolah yang tidak bisa mengadakan ujian secara mandiri. "Soalnya, masih banyak sekolah yang belum diakreditasi. Termasuk, sekolah negeri sekali pun," ucapnya.

Kepala SD Trikarsa Teti Mulyati mengatakan, dirinya maupun siswa tidak keberatan jika sekolah belum dipercaya untuk menyelenggarakan ujian sendiri. Sebab, fasilitas di sekolahnya memang belum memadai betul. Siswa di sekolah ini terpaksa harus menempuh tambahan perjalanan sekitar 1 kilometer untuk mengikuti ujian di SDN Kacapiring I.

sumber: http://www.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jam berapa???