Kamis, 14 Mei 2009

Banyak SMK Tak Miliki Sarana Praktik

Pelaksanaan program pendidikan vokasional di Kota Malang tengah disorot. Meski komposisi SMK nya yang sudah mampu melebihi jumlah SMA, namun banyak dari SMK itu yang belum menyediakan fasilitas pembelajaran secara layak. Minimnya sarana dan prasarana ini membuat pelaksanaan pendidikan vokasional di Kota Malang terkesan terburu buru bahkan belum bisa dikatakan berhasil.
“Masih banyak SMK yang kekurangan sarana dan prasarana, padahal itu peralatan vital yang harus dipenuhi. Jadi ada kesan pelaksanaan pendidikan vokasional ini terburu-buru dan jauh dari target berhasil (masih gagal –red),” ungkap Drs Sakban Rosidi Msi, Ketua Unit Pelaksana Akreditasi (UPA) Badan Akreditasi Sekolah Kota Malang.
Berdasarkan pengalaman dan temuan dari BAS, banyak SMK di Kota Malang yang belum memiliki laboratorium yang layak sebagai tempat praktikum siswa. Jadinya SMK lebih banyak memberi teori pembelajaran saja tanpa didukung kegiatan praktik secara langsung. Oleh Sakban, kondisi ini membuat pendidikan kejuruan di Kota Malang tidak lebih sebagai SMK Sastra.
“Tujuan pendidikan vokasional itu lebih mengarahkan siswa untuk mendapat keahlian secara langsung. Kalau dalam pembelajaran masih banyak porsi teorinya tanpa ada praktik, ini sama saja dengan SMK sastra,” lanjut Sakban yang pernah aktif di Dewan Pendidikan ini.
Kondisi pendidikan vokasional seperti ini menjadi lebih memrihatinkan, lanjut Sakban, sebab masih terjadi pada Kota Malang yang sudah dikenal sebagai Kota Pendidikan. Dosen pada beberapa kampus swasta ini pernah mengalami sendiri dampak dari minimnya sarana praktik bagi siswa SMK. Mobil pribadinya pernah dijadikan sasaran siswa SMK untuk mempraktikkan cara melepas ban.
“Kebetulan SMK itu memiliki jurusan otomotif tapi karena alat praktikumnya tidak memadai jadi mobil saya dipakai untuk praktik tentang cara melepas ban,” terang Sakban.
Ukuran lain yang diungkap Sakban terkait penilaian atas pendidikan vokasional yang terburu-buru nampak pada banyaknya jumlah SMK yang membuku jurusan informatika dan desain grafis. Memang secara biaya pengadaan perangkat praktikum untuk dua jurusan ini lebih murah disbanding jurusan yang lain. Namun hal ini juga menunjukkan belum adanya visi penyelenggaraan yang jelas.
“Untuk praktikum jurusan informatika dan desain grafis terbilang murah, cukup dengan seperangkat computer dilengkapi software pendukung itu sudah jadi. Tapi kalau jumlah jurusan terlalu banyak memang ada kesan penyelenggaraan pendidikan vokasionalnya tanpa ada misi yang jelas,” tegas Sakban. sty-KP

sumber: http://www.koranpendidikan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jam berapa???