PEMANFAATAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT PERSEKOLAHAN
oleh: Arif Ahmad Mangkoesaputra
Pendidikan IPS dalam proses pembelajarannya di tingkat persekolahan tidak dapat dilepaskan dari museum, karena misi dari pendidikan IPS adalah "Menanamkan pendidikan nilai, moral, etika dan sikap berbudi luhur serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa kepada siswa agar mereka dapat menjadi Warga negara yang baik, serta mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan Pancasila dan UUD 1945". Misi pendidikan IPS tersebut salah satunya dapat dicapai melalui kegiatan edukasi di museum, karena menurut Hunter (1988), tujuan pendidikan dengan pendekatan warisan budaya adalah untuk memperkuat pengertian siswa tentang konsep dan hasil seni, kecerdasan dalam bidang teknologi, serta kontribusi perbedaan kelompok sosial ekonomi pria dan wanita.
Sebagai suatu institusi yang menyajikan berbagai hasil karya dan cipta serta karsa manusia sepanjang zaman, Museum merupakan tempat yang tepat sebagai sumber pembelajaran IPS; karena melalui benda yang dipamerkannya, pengunjung dapat belajar tentang nilai dan perhatian serta kehidupan generasi pendahulu sebagai bekal di masa kini dan gambaran untuk kehidupan di masa mendatang. Sehingga tujuan dari pendidikan IPS, yakni mendidik siswa untuk menjadi warga negara yang baik yang mampu melestarikan budaya bangsa dapat terwujud.
Berbagai museum yang berdiri megah, mempunyai koleksi lengkap dan dipelihara dengan biaya yang tidak sedikit, kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap museum, hingga kini, masih jauh dari harapan, artinya : sedikit sekali orang yang tahu dan mau memahami bahwa museum bermanfaat bagi dunia pendidikan dan rekreasi. Mereka umumnya memandang museum tidak lebih dari gudang tempat penyimpanan barang tua dengan suasana ruangan yang menyeramkan.
Kenyataan ini memperlihatkan bahwa masyarakat yang membutuhkan museum relatif masih sedikit. Hal ini dapat kita saksikan dari minimnya jumlah pengunjung museum, baik secara perorangan maupun rombongan/kelompok. Selain itu, kebanyakan pengunjung museum yang berkunjung ke museum-museum yang ada di Indonesia, umumnya sebagian terbesar karena tugas sekolah, dan hanya sedikit yang datang karena ingin tahu atau keinginan sendiri. Kondisi ini jauh berbeda dengan keadaan di negara-negara maju, di mana kunjungan ke museum sudah menjadi suatu kebutuhan, terutama bagi siswa, karena merupakan bagian integral dari proses pembelajaran.
Guru belum terbiasa dan terlatih dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran, kenyataan ini terjadi karena dalam pembelajaran IPS guru lebih terfokus pada kegiatan pembelajaran tatap muka dalam kelas (classroom meeting) dan jarang atau bahkan tidak pernah melakukan pembelajaran di luar ruang kelas. Untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS, guru perlu melakukan kegiatan pembelajaran IPS di luar kelas (Sumaatmadja, 2002).
Pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran pendidikan IPS di tingkat persekolahan, belum dilakukan secara optimal, karena kurikulum pendidikan IPS yang berlaku sekarang tidak menjadikan kegiatan kunjungan ke museum sebagai suatu kegiatan yang terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran IPS di tingkat persekolahan. Akibatnya, guru lebih banyak menjadikan kegiatan kunjungan ke museum hanya sebagai kegiatan rekreatif belaka, bukan sebagai kegiatan yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran IPS.
Untuk meningkatkan kemampuan guru IPS di tingkat persekolahan dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran, antara lain melalui kegiatan MGMP, perlu dirancang suatu kegiatan pelatihan bagi guru IPS berkaitan dengan pemanfaatan museum sebagai sumber pembelajaran IPS. Diharapkan melalui kegiatan ini, para guru IPS akan menjadi lebih mampu dan terlatih dalam memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran IPS. Semoga!
sumber: http://www.re-searchengines.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar