Materi pelajaran diunduh lewat Internet. Kuliah bisa di mana saja, tak harus bertatap muka di kelas, laptop menggantikan peran dosen.
Mohammad Khoirun hanya bisa mengusap dada melihat wajah-wajah kebingungan di hadapannya. Sepanjang enam tahun mengajar, guru kelas IV sekolah dasar itu menemukan murid-muridnya kewalahan jika bertemu dengan pelajaran matematika yang pelik. Salah satunya materi bangun ruang dan pengukurannya.
Agar siswanya cepat menangkap penjelasan, Khoirun mencoba menggambar bangun ruang di papan tulis. Tapi, bukannya murid-muridnya cepat paham, ia malah lebih sering kehilangan waktu gara-gara mesti menggambar. Lama-kelamaan itu pun membuat Khoirun letih.
Semuanya berubah sejak Agustus tahun lalu, saat Khoirun mulai memakai bantuan peranti lunak pendidikan. Selain ia tak perlu repot menggambar, tampilan animasi software yang interaktif menangkap perhatian muridnya, sehingga, hanya dalam satu kali pertemuan, mereka sudah memahami materi pelik itu.
Khoirun bungah lantaran matematika, yang sebelumnya dibenci, kini jadi paling dinanti. "Sekarang itu eranya anak-anak sudah terbiasa dengan barang-barang digital, seperti PlayStation," katanya. "Kalau gurunya tidak pakai digital juga, ya, anak-anak tidak akan tertarik," guru SD Muhammadiyah 2 Situbondo, Jawa Timur, itu menambahkan.
SD Muhammadiyah tempat Khoirun mengajar hanyalah satu dari sekian banyak sekolah di Indonesia yang mulai memakai komputer sebagai alat bantu mengajar. Kini teknologi informasi sudah mulai mengubah metode belajar-mengajar di Tanah Air. Boleh dibilang, sebuah revolusi tengah membawa dunia pendidikan ke era digital atawa e-learning.
PT Pesona Edukasi, yang memproduksi peranti lunak pendidikan tersebut, mencatat sekitar 3.000 sekolah di seluruh Indonesia memakai produk mereka. Menurut Direktur Pemasaran Pesona Edukasi Hary Sudiyono Candra, dalam empat tahun terakhir, permintaan terhadap peranti lunak itu terus meningkat. "Sepertinya masyarakat mulai sadar bahwa alat bantu teknologi semacam ini dibutuhkan," ujarnya.
Perusahaan yang berkantor di Harmoni Plaza, Jakarta, itu membuat software pendidikan pelajaran matematika untuk kelas III sekolah dasar hingga kelas III sekolah menengah atas. Adapun peranti lunak pelajaran fisika hanya untuk tingkat sekolah menengah.
Program komputer itu memberi simulasi dengan animasi interaktif dari pelbagai topik pelajaran. "Peran software ini adalah alat bantu mengajar yang digunakan guru untuk menerangkan pelajaran," kata Hary tentang software yang meraih berbagai penghargaan bidang teknologi dan pendidikan itu.
Misalnya, saat belajar soal pengaruh gravitasi terhadap getaran benda, peranti lunak itu menampilkan bandul digantung pada tali, yang bisa diubah-ubah panjang dan gerakannya sesuai dengan keinginan guru. Bahkan bandul yang sama bisa dibawa ke kondisi gravitasi bulan dan Planet Mars lengkap dengan animasi latar belakang, yang membuat pemakainya merasa berada di luar angkasa.
Lalu, pelbagai peralatan laboratorium fisika, yang sebelumnya mungkin kelewat kecil untuk dilihat secara beramai-ramai, pun dihadirkan dengan ukuran besar. Alat-alat seperti mikrometer sekrup untuk mengukur dan oscillator untuk mengukur gelombang dapat diutak-atik sama seperti aslinya. "Kami sengaja mendesain supaya bisa interaktif seperti video game, sehingga anak lebih tertarik," Hary menerangkan.
Kini, tutur Hary, software yang mereka kembangkan itu mulai merambah ke sejumlah sekolah di luar negeri. Setidaknya ada 23 negara, antara lain, Singapura, Australia, dan Amerika Serikat, yang memakainya. "Dunia memang sedang demam e-learning".
Selain alat peraga, teknologi digital tengah mengubah cara penyediaan materi belajar. Salah satunya adalah penyediaan buku pelajaran dalam format e-book. Departemen Pendidikan Nasional pada Agustus 2008 meluncurkan buku sekolah elektronik, yang bisa diunduh di situs Internet departemen ini. Idenya, buku yang tersedia secara online ini bisa mengatasi kesulitan pengadaan buku ajar di daerah yang tak terjangkau oleh penerbit. Tampilan buku elektronik ini pun sengaja dibuat persis seperti versi cetak sehingga rasa membaca buku masih ada.
Teknologi serupa dimanfaatkan Yayasan Mitra Netra, Jakarta, yang menyediakan buku pelajaran bagi para penyandang tunanetra. Yayasan ini mengetik ulang berbagai buku pelajaran ke dalam huruf Braille, lantas mengunggahnya ke situs www.kebi.or.id.
Direktur Eksekutif Mitra Netra Bambang Basuki menyatakan penyandang tunanetra di Indonesia sangat kekurangan buku bacaan. Dengan jalan ini, buku pelajaran dengan huruf Braille yang sulit dicari di toko buku kini bisa diunduh gratis, baik oleh lembaga pendidikan tunanetra maupun perseorangan. Hanya, para pengunduh harus memiliki mesin cetak huruf Braille.
Universitas Bina Nusantara, Jakarta, menjadi salah satu perguruan tinggi yang juga memanfaatkan jaringan Internet. Penyediaan materi kuliah lewat Internet sudah dilakukan Bina Nusantara sejak delapan tahun silam. Sistem perkuliahan berbasis teknologi informasi di kampus itu dikenal dengan multichannel learning.
Dan mulai bulan ini, Binus--begitu universitas itu biasa disebut--mulai menggelar program online learning, yang seluruh proses perkuliahannya berbasis digital. Sebenarnya format kuliah online itu sama dengan program sarjana reguler di Binus. Tapi program itu tak menuntut mahasiswa selalu hadir di kampus karena perkuliahan bisa dilakukan dari mana saja.
Menurut Dekan Online Learning Binus Harjanto Prabowo, program ini ditujukan bagi mereka yang punya akses Internet dan bisa belajar mandiri tapi tak punya waktu untuk kuliah di kampus. "Kami menawarkan program yang fleksibel dalam waktu dan tempat belajar," katanya.
Program belajar online itu, Harjanto menambahkan, bukan ditujukan bagi mereka yang baru lulus sekolah menengah atas, tapi lebih kepada mereka yang sudah bekerja, wiraswasta, dan ibu rumah tangga. Meski program ini masih baru, pendaftarnya lumayan banyak.
Binus baru membuka kuliah online itu untuk jurusan S-1 Manajemen Pemasaran dan S-1 Sistem Informasi khusus untuk lulusan D-3. Rencananya, perkuliahan online learning dimulai Senin besok. Ada sekitar 40 mahasiswa yang akan mengikuti kuliah online tersebut.
Setiap mahasiswa diberi komputer jinjing tipe netbook, yang di dalamnya sudah dilengkapi program Learning Management System (LMS). Dalam program itu sudah ada materi berbagai mata kuliah untuk satu semester dan daftar bacaan berbentuk buku dan jurnal elektronik yang bisa diakses di perpustakaan digital Binus. Benar-benar tanpa kertas sama sekali.
Lalu, dalam LMS juga sudah disiapkan forum sebagai wadah mahasiswa berkonsultasi secara pribadi dengan dosen. Forum itu juga sebagai tempat diskusi kelompok dengan mahasiswa lainnya.
Harjanto menemukan satu keuntungan dari sistem belajar online tersebut. "Dosen bagus atau praktisi yang sebelumnya sulit didatangkan kini bisa ikut mengajar karena mereka tak perlu ke kampus," ujarnya.
Binus juga mendesain agar program pada netbook tak harus selalu terhubung ke Internet secara terus-menerus. Setiap terhubung ke Internet, LMS secara otomatis akan melakukan pemutakhiran data dan materi. Jadi mahasiswa memang tak perlu datang ke kampus kecuali untuk beberapa kali pertemuan tatap muka dan ujian.
Ke depan, tutur Harjanto, Binus berencana meluaskan online learning itu menjadi berskala nasional. Program pun akan diperluas ke belajar satu pokok bahasan saja. Misalnya, bahasa Indonesia, yang punya potensi besar menarik mahasiswa dari mancanegara.
"Yang jelas, sekarang ini, mau tak mau, harus bergeser ke digital karena arahnya memang ke sana," kata Harjanto. "Kalau kita tak memulainya sekarang, nanti kita tergilas oleh waktu." OKTAMANDJAYA WIGUNA | REH ATEMALEM SUSANTI
sumber: http://www.korantempo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar